Rabu, 22 Juni 2011

Nostalgia Ke Sumatera Barat

Kampuang nan jauh di mato
Gunuang Sansai Baku Liliang
................

Lagu daerah ini selalu teringat ketika mendapatkan tugas ke Sumatera Barat untuk kedua kalinya, yang akhirnya bisa dimanfaatkan untuk silaturahmi dan nostalgia semasa kecil dulu. Niat yang sudah direncanakan sebelum ke Padang Panjang (akhir Maret) ternyata baru dapat direalisasikan bulan ini saat mendapatkan kesempatan kembali dalam menjalankan tugas negara ke Kabupaten Dharmasraya. Diawali dengan cobaan yang berat untuk bangun Jam 3 pagi demi mengejar pesawat berangkat jam 6.25 WIB. setibanya jam 8.10 WIB di Bandara International MinangKabau (BIM), langsung wisata kuliner mencari sarapan di belakang gubernuran (rekomendasi atasan yaitu pak Fadli Arif - Nostalgianya semasa kuliah di Universitas Andalas). Kalau kebersihan dan kesehatan jangan ditanya lagi, soalnya tempat makannya aja di depan Depkes, jadi sudah pasti terjamin. He..he..he... Ditemani panitia lokal menikmati Soto Padang, Bubur Kacang Ijo serta Teh Talua (Teh Telur), Hmm.. benar-benar maknyus. Rasa padeh (pedas), menunjukan khas asli Sumatera Barat (sumbar). Pedasnya sangat berbeda dengan masakan padang yang berada di luar Sumbar, terutama Jakarta. Sejauh perjalanan saya keliling Indonesia, hanya di Medan yang mampu menyaingi pedasnya masakan di Sumbar. Beberapa Orang berpendapat, cabe yang tidak tumbuh di Sumbar menjadi alasan dan pengaruh dibeberapa daerah yang warganya mayoritas kurang suka masakan pedas. Selain pedas, Bareh (beras) Solok [Kabupaten Solok ialah daerah terkenal penghasil beras di Sumbar] yang lembut menambah rasa nikmat Soto.

Perjalanan dilanjutkan, sepertinya tidak ada perubahan di Sumatera Barat. Meskipun panas, tetapi Asri dan sejuk serta adanya hawa dingin yang muncul sesekali tetap terasa dikarenakan banyaknya pohon dan perbukitan yang lestari dan terjaga (tidak seperti perjalanan ke riau, penuh hutan gundul serta kebun sawit dan karet). Kurang lebih setelah 1 jam perjalanan, mampir di daerah Sitinjau Laut. Di daerah ketinggian ini, disediakan sebuah tempat (seperti pondok) untuk melihat kota padang dari kejauhan. Terlihat Rumah-rumah di kota yang sangat sedikit dibandingkan Jakarta, pabrik semen padang yang mengepulkan asap, Laut Biru yang menyilaukan, dan Perbuktian Hijau. Atasan saya berkata : "Kalau melihat pemandangan alam di sumbar, Yakin Kalau kiamat masih Jauh", sepertinya benar adanya. Pembangunan yang tidak bermegah-megah, Hutan-hutan yang lestari, sungai-sungai dan jalanan yang bersih tidak menunjukan adanya kerusakan di muka bumi yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia. Hal yang saya sebutkan barusan, merupakan kebalikan dari tanda-tanda kiamat sudah dekat bukan?

Hanya sekitar 15 menit di Sitinjau Laut, ditengah perjalanan menuju Dharmasraya wisata kuliner masih berlanjut. Tepat jam makan siang, mampir di Rumah Makan dengan menu yang terkenal dan istimewa menyajikan Ikan Sampadeh (Rekomendasi panitia lokal). Hmm.. nyam..nyam.. maknyus lagi dech. Walaupun RM tersebut tidak ada nama, tapi ramenya jangan ditanya. Sebagian menu aja dah habis, padahal belum terlalu siang. Sekitar Pukul 03.30 Sampai juga di Hotel Umega di Kabupaten Dharmasraya. Tidak semewah hotel di jakarta, tapi standar (Ac + TV) dan cukuplah untuk istirahat setelah melakukan perjalanan kurang lebih 6 jam dari BIM. Tanpa ada yang memberikan rekomendasi, mencari makan malam di luar kira-kira 20 meter di seberang kiri hotel, hmm... tidak semaknyus seperti sarapan dan makan siang, tapi termasuk top markotoplah. Masakannya Terasa gurih.

Esok harinya, supaya badan tetap fit + sambil menunggu dijemput panitia lokal, sepiring menu sarapan di hotel harus disantap sebelum melanjutkan tugas negara. Tidak ada yang berbeda dengan tugas-tugas negara sebelumnya, memberikan wejangan dan sosialisasi dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi abdi negara dalam hal pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Cuma yang berbeda kali ini adalah peserta yang sangat antusias dibandingkan dengan peserta di daerah yang sebelumnya didatangi. Sayang sekali, waktu yang diberikan sangat singkat (1 hari) dikarenakan jarak jauh yang harus di tempuh ke daerah.

Selesai tugas negara, Pukul 18.00 WIB perjalanan dilanjutkan kembali ke Kota Padang dengan menggunakan travel. Sekitar pukul 21.00 WIB, Supirnya berhenti untuk makan malam di RM Kasihan Ombak (maaf, lupa nama daerahnya). Yang maknyus disini adalah Gulai Kari Kambing pakai rebung. Wow, Bener-bener nikmat dan Selera untuk makan. Pukul 24.00 akhirnya tiba di kota padang, nginap di siteba (rumah adik nyokap). Disuguhi makan malam lagi, terpaksa dech harus makan. Udah dua hari di Sumbar, acara makan-makannya udah banyak gini. Gimana 3 hari lagi? :D

Hari ke 3 di Sumbar, Jum'at Pagi langsung mengelilingi kota Padang. Di tengah kota, Sisa-sisa bekas gempa bumi yang mengguncang kota padang masih terlihat. Banyak bangunan kosong yang tidak dipakai, karena memang sudah tidak layak lagi dipakai. Sebagian gedung, ada yang diperbaiki, sebagian terbengkalai begitu saja karena harus dirobohkan terlebih dahulu dan sebagian lagi tinggal puing-puing gedung yang belum dibersihkan. Teguran Allah SWT pada kota padang memberikan pelajaran pada masyarakatnya, Dinas terkait sedang membangun (melebar) jalan untuk jalur evakuasi jika terjadi tsunami. Peta-peta evakuasipun, sudah dipasang disetiap sudut kota. Di Pinggiran Kota, melewati jembatan Siti Nurbaya, berhenti sejenak di pinggir pantai. Makan talua katuang (Telur Penyu) dan talua asin sambil menikmati gulungan ombak dan indahnya pantai yang bersih. Tidak banyak jadwal di hari ke-3 ini, hanya sebentar dan silaturahmi ke tempat sanak sodara. Lebih banyak Istirahat karena lelah dan lamanya perjalanan dari dharmasraya masih terasa.

Mobil rental Avanza yang dipesan sudah datang, hari ke-4 di sumbar langsung tancap ke kampuang ibu di Pariaman tepatnya desa padusunan. Jalan By Pass di padang yang lumayan lebar dan sepi, membuat naluri balap supir medan jadi keluar. He..he.. Kurang lebih setengah jam menempuh perjalanan. Silaturahmi tetap menjadi agenda utama, sayang sekali Target Operasi Silaturahmi (TOS) hanya 50 % bisa direalisasikan di pariaman, karena 50% lagi TOS tidak ada di tempat, malahan posisi berada di Padang. Duuh.. padahal teknologi sudah maju, kenapa gak di telp dulu dari padang tadi. Geblek..geblek... Perjalanan dilanjutkan kembali dengan tujuan langsung ke Painan. Hiks..hiks.. Sayang sekali hanya sebentar di Pariaman, padahal pengen mampir di Pantai Kata dan pantai Arta. Ada istilah yang terkenal di pantai tersebut yaitu Nasi SEK. SEK merupakan singkatan Seratus Kenyang. Jadi waktu saya masih kecil dulu, hanya dengan Rp. 100 beli nasi di pantai tersebut, perut ini sudah kenyang dibuatnya. Klo sekarang, harganya gak mungkin seratus lagi dech kayaknya, mungkin SEribu Kenyang atau SEpuluh ribu Kenyang.

Perjalanan Ke Painan, seperti perjalanan ke Berastagi di Sumatera Utara, penuh liku-liku dan berbelok-belok. Yang buat berbeda hanya pada Pemandangan. Sepertiga pertama dalam perjalanan kita melewati Teluk Bayur (Pelabuhan Sumbar) dan melihat Pantai dengan pasir putih yang bersih, Laut Biru, serta ada beberapa kapal laut yang menurunkan jangkar. Sepertiga kedua hanya pemandangan bukit-bukit dan gunung-gunung hijau yang asri serta rumah-rumah penduduk. Sepertiga yang terakhir, sepanjang perjalanan ditemani Sungai besar yang bersih. Di Painan juga agenda utama tetap silaturahmi, kali ini TOS 100% berhasil direalisasikan. Selanjutnya menyempatkan diri ke Jembatan Akar (Root Bridge). Jembatan akar ini menghubungkan dua desa, dibawah jembatan akar tersebut ada sungai besar yang bersih. Kalau hari libur, pasti ramai dipenuhi orang-orang yang mandi. Teringat masa kecil dulu, bersama sepupu mandi-mandi di sungai tersebut. Sayang sekali tidak membawa baju ganti, klo gak kan bisa mandi-mandi juga.

Sebelum Pulang dari Painan, makan siang dengan menu Soto Rang Bayang. Seperti rasa-rasa sebelumnya : "Maknyus". Di tengah perjalanan banyak yang jual durian di pinggir jalan. Hasrat untuk beli tak tertahankan lagi, Hmm... Udah murah, rasanya pun Maknyus mantap.. Senang sekali rasanya, pulang ke medan terakhir gak sempat beli durian. Eh.. ternyata malah di sumbar sempat. Belinya pun gak sedikit, udah makan di tempat, ada yang di bawa pulang lagi :D . Sampai di Padang, langsung Makan malam di pinggir pantai RM Fuja yang menyediakan khas Seafood. Benar-benar maknyus menikmati Kakap dan UDang Bakar serta Cumi Goreng + sambal dengan rasa pedas asli.















Hari terakhir di sumbar, masih disempatkan juga wisata kuliner. Diajak sepupu Sarapan Lontong Pakis di daerah tarandam dan Makan siang klo gak salah namanya RM Lubuk Lingga di daerah lubuk minturun. Kayaknya berat badan naik 2 kg selama di sumbar. Jam 15.45 WIB sudah di BIM, padahal pesawat jam 17.50 WIB. Gara-gara khawatir terlambat takut Macet seperti Jakarta, jadi Kecepatan dech. Oh ya, hampir saja gua berlaku dzholim selama di pesawat. Gara-gara aroma kerupuk jariang (Kerupuk Jengkol) yang dibelikan sepupu tadi waktu makan siang. Hampir juga ketahuan, pramugarinya sempat mencari-cari di bagasi atas, padahal kalau di buka kantong plastik, pasti ketahuan. Pramugarinya hanya liat sekilas dari luar tanpa membuka kantong plastik (warna putih) berisi keripik sanjay. Untung juga aromanya gak muncul lagi setelah bagasi di atas ditutup pramugarinya. Padahal bawa cuma sedikiiiit aja, cukup untuk sekali makan dan udah dilapisi 3 kantong plastik lagi, tapi tetap aja aromanya lumayan. Fiuh... selamat dah gua.

Tidak semua nostalgia waktu kecil terulang. Tidak sempat mampir ke danau maninjau, berenang dan mencari pensi di dasar danau. Tidak semua juga dapat melihat keindahan Sumbar di berbagai tempat seperti Danau diatas dan danau dibawah, ngarai sianok, danau singkarak, pantai cerocok dan sebagainya. Sumbar aja sudah sebanyak itu, dan tidak bisa melihat semuanya. Bagaimana kalau seluruh Indonesia? Bagaimana lagi melihat keindahan Seluruh Negara di Dunia?

Ya Allah berilah Kekuatan dan kesempatan lain dalam melakukan perjalanan untuk melihat KeagunganMu dan menambah Keimanan ini. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar