Senin, 31 Desember 2012

Kaleidoskop Perjalanan

Hampir dalam 3 tahun berbeda melakukan perjalanan dengan frekuensi yang sangat banyak. Di akhir tahun 2012, tulisan ini hanya sebagai simpanan memori kenangan, supaya tidak terlupa tanggal dan tempat-tempat yang pernah dikunjungi. Meskipun sampai saat ini belum ada melakukan perjalanan lagi, tapi bukan berarti terhenti. Insya Allah ada kesempatan yang jauh lebih baik dari tempat-tempat sebelumnya. Amin.

Tahun 2010
Kabupaten Sumbawa Barat, 25-27 Juli 2010
Kabupaten Balangan, 31 Agustus - 2 September 2010
Kota Salatiga, 27-28 September 2010
Kota Solo, 4 November 2010
NTT Kupang, 17-18 November 2010

Tahun 2011
Temanggung Jawa Tengah, 5-6 April 2011
Kabupaten Dharmasraya Sumatera Barat, 8-10 Juni 2011
Kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara, 3-4 Oktober 2011
Banjarmasin Kalimantan Selatan, 4-5 Desember 2011
Kabupaten Mandailing Natal - Sumatera Utara, 7-9 November 2011
Mataram Nusa - Tenggara Barat, 19-21 September 2011
Padang Panjang - Sumatera Barat, 27-28 Maret 2011
Tarakan - Kalimantan Barat, 18-20 Juli 2011
Makassar - Sulawesi Selatan, 30 Nopember 2011 - 1 Desember 2011
Surabaya - Jawa Timur, 7-8 Desember 2011

Tahun 2012
Sumbawa Besar - Nusa Tenggara Barat, 23-26 Februari 2012
Kabupaten Raja Ampat - Papua Barat, 18-21 Maret 2012
Solok Selatan - Sumatera Barat, 2-5 April 2012
Kabupaten Mandailing Natal - Sumatera Utara 23-26 April 2012
Manado - Sulawesi Utara, 8-9 Mei 2012
Kabupaten Lombok Barat - Nusa Tenggara Barat, 21-23 Mei 2012

Kamis, 19 Juli 2012

Raja Ampat, Little Heaven In The World

Inilah perjalanan yang untuk pertama kalinya merasakan JETLAG, berangkat pukul 00.20 WIB dari Jakarta dan Transit di Makassar sekitar 1 jam, kemudian pukul 04.30 WITA melanjutkan perjalan ke Kota Sorong. Akhirnya sekitar pukul 07.30 WIT mendarat di bandara Dominique Eduard Osok Kota Sorong.

Wisata kuliner yang seharusnya mencicipi masakan khas Papua Barat, malah diajak panitia sarapan coto makassar sebelum naik speed boat menuju Waisai ibukota Kabupaten Raja Ampat. 1,5 jam waktu yang ditempuh menuju Waisai. Menggunakan 2 mesin yang mempunyai kekuatan 2 pk untuk setiap mesinnya, serta menghabiskan 300 liter solar untuk perjalan tersebut. Sungguh perjalanan yang melelahkan dan menghabiskan banyak biaya. (Syukur Alhamdulillah bukan biaya sendiri Hi..hi..hi..)

Tiba di hotel, istirahat hanya sekitar 1 jam kemudian makan siang sebelum melanjutkan perjalanan wisata pulau-pulau di Raja Ampat. Pulau Kurkapa adalah yang pertama disinggahi. Pantai pasir putih nan bersih, Air laut jernih serta bening, Ikan-ikan dan terumbu karang terlihat jelas dari atas laut. Pulau ini menyediakan resort penginapan dengan biaya +_ $ 1200/malam. Merupakan harga yang wajar karena dikelola oleh pihak asing. Selain itu di Pulau ini ada juga spot diving yang manstrap dan menyediakan semua perlengkapannya.

Masih dihari yang sama, pulau Meosfun pulau kedua yang disinggahi. Pulau tak berpenghuni ini pernah digunakan sebagai lokasi shooting film oleh Negara Perancis. Maaf judul filmnya lupa (padahal sudah dikasi tau oleh guide), filmnya seputar tentang survival. Di Pulau ini akhirnya menceburkan diri dan Snorkeling, ternyata ga tahan juga kalau hanya melihat pantai pasir putih dan Air laut jernih. He..he..he..

Hari Kedua di Raja Ampat tidak melakukan perjalanan ke pulau-pulau seberang Waisai, hanya jalan-jalan disekeliling pulau memanfaatkan pinjaman mobil dari dinas setempat. Selama di Raja Ampat, menu makan malam andalan hanya ikan bakar (Kakap, Kerapu dll). Yang membuat rasanya maknyus karena ikannya masih segar + sedikit bumbu khas Papua.

Hari Ketiga, Teluk Kabui dan Waiwo menjadi pulau terakhir di Raja Ampat yang dikunjungi. Di Teluk Kabui ini banyak pulau/Batu Karang seperti jamur mirip dengan Pulau Wayak (Paling terkenal di Raja Ampat, tapi jauh. 5 Jam Perjalanan Speed boat). Nah, klo di waiwo ada tersedia cottage yang murah, Rp 450.000,-/malam. Di Waiwo ini ada tempat untuk memberi makan ikan laut.

Selama perjalanan ke Pulau-Pulau Raja Ampat, Anda mungkin akan sering melihat sekelompok Lumba-Lumba yang berenang sambil melompat menjulang ke atas laut. Kalau melihat keindahannya, seharusnya Raja Ampat adalah tempat wisata No.1 di Indonesia setelah Bali, tapi mungkin karena yang jauh dan membutuhkan biaya mahal serta budaya masyarakat Papua tidak sebaik bali membuat nama Raja Ampat sedikit tenggelam.


Postingan kali ini, saya sengaja menampilkan banyak foto-foto keindahan Pulau-Pulau di Raja Ampat. Sekalian Promosi Wisata Indonesia. Semua Foto sudah dibuat sesuai resolusi web pages supaya tidak lambat diakses. Informasi lebih lanjut seputar informasi wisata Raja Ampat, dapat menghubungi email Saya. :)

Kamis, 15 Maret 2012

Sumbawa Besar

Naik Pesawat Terbang Trans Nusa tipe Fokker 5O menjadi pengalaman baru dalam perjalanan kali ini. Pesawat berkapasitas penumpang 44 orang (Pilot + Co Pilot + 2 Pramugari) dan baling-baling pesawatnya ada 2. Seri yang jauh lebih tinggi dari pesawat terbang Tipe Cessna C208B Caravan "Commuter" yang sebelumnya saya tumpangi sewaktu menuju Mandailing Natal (Kapasitas 14 Orang + 1 baling-baling). Tak lupa sedikit narsis ketika mendarat di Bandara Brang Biji Kabupaten Sumbawa. :D

Daerah yang kecil, tempat untuk dikunjungi juga ga banyak, hanya pantai dan istana raja yang terbuat dari kayu dan sudah ga di tempati serta beberapa bangunan tua khas zaman penjajahan belanda. Kalau wisata kuliner banyak juga yang maknyus di Sumbawa, ada Kepiting singang, Ikan Bakar Sirasang (Garam Merica), Plecing Kangkung, beberuk dan beberapa jenis makanan yang lupa namanya. Rasa pedas dari cabe lombok mendominasi masakan khas sumbawa.

Nah, Kalau oleh-oleh ada yang paling terkenal di sumbawa ada Susu Kuda Liar yang berkhasiat untuk menambah vitalitas, mengobati penyakit jantung dll, ada Madu Sumbawa, Permen Susu Sapi dan Batik Sumbawa. Cukup merogoh kocek Rp 45.000,- sudah dapat satu botol susu kuda liar dan Rp 65.000,- untuk satu botol Madu Asli Sumbawa. Kalau madu gak usah diragukan lagi, khasiatnya untuk kesehatan sudah ada jaminan dalam Al-Qur'an.

Kapal RoRo untuk penyebrangan dari pototano ke kayangan menuju bandara lombok untuk pulang kembali ke Jakarta menjadi pelengkap jenis-jenis transportasi yang sudah dijalani.

Jumat, 17 Februari 2012

Telat 4 Bulan

Waaahh 4 Bulan lewat, selama itu tidak ada hasil petualangan yang tertulis di blog ini. ck..ck..ck.. Padahal sudah berapa banyak perjalanan luar biasa yang dilalui. Mulai dari Kabupaten Mandailing Natal (Madina) di Propinsi Sumatera Utara pada awal November, Banjarmasin di Propinsi Kalimantan Selatan, Makassar hingga Surabaya pada Pertengahan Desember. 3 kota terakhir disebut dijalani hanya tempo 9 hari. Mantap banget kan? kayak orang penting aja. Hampir gak pulang-pulang bah.

Kita mulai dari Kabupaten Mandailing Natal (Madina), yang luar biasa dalam perjalanan ini ialah Naik pesawat kecil (Sushi Air). Mempunyai Kapasitas penumpang 14 orang (2 Pilot), pesawat ini memberikan sensasi yang beda dari pesawat komersil lain seperti Garuda dan Lion Air. Yang beda hanya ketika mendarat (landing) dan lepas landas (take off). Goyangan-goyangan kecil cukup terasa ketika pesawat dihembus angin. Kalau bahasa Medannya itu "pesawatnya agak nyebeng-nyebeng". Tapi goyangan-goyangan tersebut bukan goyangan yang termasuk kategori mencemaskan, karena memang tidak ada rasa takut pada diri saya. Hanya saja goyangannya merasa terasa beda.

Selama di Madina nginap di hotel Rindang, hotel ini sangat recomended buat mereka yang sering melakukan perjalanan darat lintas Sumatera Utara - Sumatera Barat. Meskipun bukan hotel berbintang, fasilitas untuk ukuran hotel di tingkat Kabupaten seperti AC, TV Kabel, kebersihan dan rasa nyaman cukup memuaskan ditambah dengan harga yang terjangkau. Hotel ini baru dibangun dan isyunya lagi kata-katanya punya salah seorang anggota DPRD Kab. Madina. Oh ya, selama di Madina, panitia lokal juga ngajak wisata kuliner, sama seperti di daerah-daerah sebelumnya. Hi..hi..

Perjalanan Ke Kab. Madina ini juga jadi ajang ambil kesempatan pulang ke kampung Halaman di Medan. Bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha, aneka makanan pun tersaji di rumah mulai dari Lontong, Sate, Roti Jala dsb. Wisata Kuliner sebelum balik ke Jakarta yang sudah diagendakan sejak awal mulai dijalani. Beli Durian, Mie Rebus, Sate Memeng, Es Tebak, Sop Sum-sum langsa serta Mie Aceh di Titi Bobrok. Hampir meletus tuh perut. Wakakakak. Gak lupa juga bawa Bolu Meranti, Bika Ambon dan Pancake Durian sebagai oleh-oleh dari Medan.

Di Banjarmasin tidak ada yang istimewa, hanya makan soto banjar + nginap di Hotel Grand Mentari. Standarlah untuk hotel bintang 3. Kalau perjalanan ke Makassar, sangat berbeda dengan tugas-tugas ke daerah sebelumnya. Bertugas sebagai staf pendukung untuk kegiatan Saksi Ahli di Pengadilan Negeri Makassar untuk kasus tindak pidana korupsi (tipikor). Tugasnya hanya sebagai juru poto dan notulensi untuk bukti dokumentasi perjalanan. Pengalaman baru juga bertambah ketika ke Makassar, pengalaman naik kelas Bisnis Lion Air. Mau gimana lagi, tidak dapat tiket pesawat Garuda dan Lion Air kelas ekonomi. Yang terakhir di Surabaya, inipun juga beda dengan tugas-tugas sebelumnya. Nginap dan ngadain acara di Hotel Garden Palace. Hanya sebagai Staf pendukung untuk Acara Sosialisasi Whistleblower System.

Jumat, 30 September 2011

Mataram

Jalan lagi... jalan lagi... Pergi ke Mataram (Nusa Tenggara Barat) kota kedua tujuan para Bule dan Wisman (wisatawan mancanegara) setelah Bali. Tidak seperti biasanya, baru turun tangga dari pesawat udah dicegat sama panitia lokal, langsung dialihkan ke jalur & Ruangan VIP Bandara Selaparang. Ngobrol sesaat sambil duduk disofa, disuguhi Kue dan Parsel Buah-buahan (Anggur, Apel, Jeruk dsb). Pergi bersama Eselon I, menambah pengalaman tersendiri, baru kali ini diistimewakan. Dari Bandara sebelum ke Hotel, dijamu Makan Malam sama panitia lokal. Rumah Makan Taliwang Irama, menyajikan makanan khas Mataram, ada Ayam Taliwang, Sop Bebelung dan beberapa makanan lain yang lupa namanya (gak pernah dengar sih).

Makanan yang menjadi ciri khas di Mataram adalah Ayam. Kalau kita pesan Ayam, maka yang diberikan adalah satu ekor ayam (lengkap kecuali kepala dan ceker), bukan ayam potong seperti biasanya (bagian paha ayam, Sayap, Leher maupun dada). Dan yang lebih khas lagi, ayam tersebut ayam kampung. Tinggal menyajikan yang berbeda, ada yang dibakar, diSoup ataupun digoreng. Konon nama Ayam Taliwang berasal dari Ibukota Sumbawa Barat yaitu Taliwang tapi ada juga yang mengatakan Taliwang diambil dari nama kampung di Mataram. Gak tau mana yang benar, yang pasti Ayam Taliwang memang enak dan Pedas. Pedasnya emang beda dengan masakan padang, cabai/cabe yang digunakan yaitu Cabe Lombok. Sudah terkenal seantero Indonesia, cabe yang paling pedas ya cabe lombok.

Nginap di Hotel Lombok Plaza, Susunan Ruko yang disulap menjadi hotel Bintang Tiga yang katanya baru diresmikan bulan Mei 2011. Bagus, tepat di tengah kota, Menu Sarapan seperti hotel bintang emapt. Sangat direkomendasikan bagi mereka yang kerja di pemerintahan, terutama buat Eselon IV atau PNS golongan I dan II karena memberikan harga rate pemerintah.

Malam kedua wisata kuliner berlanjut lagi. Rumah makan Green Asri memberikan menu yang lebih variatif dibandingkan RM Taliwang Irama. Ayam Pelalah, Plecing Kangkung, serta menu lainnya dan tempat makan yang sedikit unik. Pondasi sudutnya terbuat dari batang pohon kelapa , masyarakat setempat menyebutnya brugak (mirip pondok/jogla).

Hanya 3 hari di Mataram, tapi pengalaman yang dirasakan tetap berbeda. Semoga bisa datang kembali lagi.

Senin, 15 Agustus 2011

Kota Tarakan

Lagi-lagi telat nulis blognya. Sibuk mulu sich, setiap pulang dari daerah harus beresin administrasi dulu untuk pertanggungjawaban seperti SPPD, tiket, boarding pass & port tax, kwitansi hotel dan tetekbengek lainnya :D. Belum lagi ditambah menumpuknya kerjaan harian kalau pergi keluar kota seperti database, update ke website, buat format dan konsep surat.

Perjalanan yang kedua kalinya ke Pulau Kalimantan. Kalau yang pertama ke Kalimantan Selatan, maka yang kedua ke Kalimantan Timur. Tepatnya di Pulau Tarakan. Inilah kota kedua terjauh yang pernah Saya tempuh selain Kupang di Nusa Tenggara Timur. Kalau Pesawat ke Kupang transit di Bandara Juanda Surabaya, maka sebelum mendarat di Bandara Juwata Pulau Tarakan pesawat harus transit di Bandara Sepinggan Balikpapan. Lama perjalanan hampir sama sih, + 3 Jam. Gak ada yang berbeda dengan kota-kota sebelumnya, tetap menjalankan tugas sebagai staf pendukung.

Kepiting adalah Makanan yang terkenal serta menjadi icon pulau tarakan, tapi sayang sekali tidak sempat merasakan & menikmatinya. Sebagai Manusia yang punya hobi makan, ini sangat menyedihkan. Hiks..hiks.. Kekecewaan sedikit terobati, diajak panitia lokal makan malam menikmati makanan seafood lainnya seperti Ikan Bakar + nasi uduk.

Hanya Ikan Kerupuk tipis (katanya sih kerupuk Ikan Asin) yang menjadi ciri khas oleh-oleh dari Pulau Tarakan. Karena dekat dengan pulau Malaysia, Oleh-oleh lain yang bisa dibeli bukan produk lokal, tapi produk negeri seberang seperti Bolu Gulung, biskuit dan sebagainya. Seandainya waktu yang diberikan lebih lama, tentu bisa menelusuri seluk beluk kota dan menikmati keindahan pantai serta menceritakan lebih banyak lagi kedalam blog ini.

Kota manalagi ya selanjutnya ?

Rabu, 22 Juni 2011

Nostalgia Ke Sumatera Barat

Kampuang nan jauh di mato
Gunuang Sansai Baku Liliang
................

Lagu daerah ini selalu teringat ketika mendapatkan tugas ke Sumatera Barat untuk kedua kalinya, yang akhirnya bisa dimanfaatkan untuk silaturahmi dan nostalgia semasa kecil dulu. Niat yang sudah direncanakan sebelum ke Padang Panjang (akhir Maret) ternyata baru dapat direalisasikan bulan ini saat mendapatkan kesempatan kembali dalam menjalankan tugas negara ke Kabupaten Dharmasraya. Diawali dengan cobaan yang berat untuk bangun Jam 3 pagi demi mengejar pesawat berangkat jam 6.25 WIB. setibanya jam 8.10 WIB di Bandara International MinangKabau (BIM), langsung wisata kuliner mencari sarapan di belakang gubernuran (rekomendasi atasan yaitu pak Fadli Arif - Nostalgianya semasa kuliah di Universitas Andalas). Kalau kebersihan dan kesehatan jangan ditanya lagi, soalnya tempat makannya aja di depan Depkes, jadi sudah pasti terjamin. He..he..he... Ditemani panitia lokal menikmati Soto Padang, Bubur Kacang Ijo serta Teh Talua (Teh Telur), Hmm.. benar-benar maknyus. Rasa padeh (pedas), menunjukan khas asli Sumatera Barat (sumbar). Pedasnya sangat berbeda dengan masakan padang yang berada di luar Sumbar, terutama Jakarta. Sejauh perjalanan saya keliling Indonesia, hanya di Medan yang mampu menyaingi pedasnya masakan di Sumbar. Beberapa Orang berpendapat, cabe yang tidak tumbuh di Sumbar menjadi alasan dan pengaruh dibeberapa daerah yang warganya mayoritas kurang suka masakan pedas. Selain pedas, Bareh (beras) Solok [Kabupaten Solok ialah daerah terkenal penghasil beras di Sumbar] yang lembut menambah rasa nikmat Soto.

Perjalanan dilanjutkan, sepertinya tidak ada perubahan di Sumatera Barat. Meskipun panas, tetapi Asri dan sejuk serta adanya hawa dingin yang muncul sesekali tetap terasa dikarenakan banyaknya pohon dan perbukitan yang lestari dan terjaga (tidak seperti perjalanan ke riau, penuh hutan gundul serta kebun sawit dan karet). Kurang lebih setelah 1 jam perjalanan, mampir di daerah Sitinjau Laut. Di daerah ketinggian ini, disediakan sebuah tempat (seperti pondok) untuk melihat kota padang dari kejauhan. Terlihat Rumah-rumah di kota yang sangat sedikit dibandingkan Jakarta, pabrik semen padang yang mengepulkan asap, Laut Biru yang menyilaukan, dan Perbuktian Hijau. Atasan saya berkata : "Kalau melihat pemandangan alam di sumbar, Yakin Kalau kiamat masih Jauh", sepertinya benar adanya. Pembangunan yang tidak bermegah-megah, Hutan-hutan yang lestari, sungai-sungai dan jalanan yang bersih tidak menunjukan adanya kerusakan di muka bumi yang disebabkan oleh tangan-tangan manusia. Hal yang saya sebutkan barusan, merupakan kebalikan dari tanda-tanda kiamat sudah dekat bukan?

Hanya sekitar 15 menit di Sitinjau Laut, ditengah perjalanan menuju Dharmasraya wisata kuliner masih berlanjut. Tepat jam makan siang, mampir di Rumah Makan dengan menu yang terkenal dan istimewa menyajikan Ikan Sampadeh (Rekomendasi panitia lokal). Hmm.. nyam..nyam.. maknyus lagi dech. Walaupun RM tersebut tidak ada nama, tapi ramenya jangan ditanya. Sebagian menu aja dah habis, padahal belum terlalu siang. Sekitar Pukul 03.30 Sampai juga di Hotel Umega di Kabupaten Dharmasraya. Tidak semewah hotel di jakarta, tapi standar (Ac + TV) dan cukuplah untuk istirahat setelah melakukan perjalanan kurang lebih 6 jam dari BIM. Tanpa ada yang memberikan rekomendasi, mencari makan malam di luar kira-kira 20 meter di seberang kiri hotel, hmm... tidak semaknyus seperti sarapan dan makan siang, tapi termasuk top markotoplah. Masakannya Terasa gurih.

Esok harinya, supaya badan tetap fit + sambil menunggu dijemput panitia lokal, sepiring menu sarapan di hotel harus disantap sebelum melanjutkan tugas negara. Tidak ada yang berbeda dengan tugas-tugas negara sebelumnya, memberikan wejangan dan sosialisasi dalam meningkatkan kapasitas dan kompetensi abdi negara dalam hal pembangunan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Cuma yang berbeda kali ini adalah peserta yang sangat antusias dibandingkan dengan peserta di daerah yang sebelumnya didatangi. Sayang sekali, waktu yang diberikan sangat singkat (1 hari) dikarenakan jarak jauh yang harus di tempuh ke daerah.

Selesai tugas negara, Pukul 18.00 WIB perjalanan dilanjutkan kembali ke Kota Padang dengan menggunakan travel. Sekitar pukul 21.00 WIB, Supirnya berhenti untuk makan malam di RM Kasihan Ombak (maaf, lupa nama daerahnya). Yang maknyus disini adalah Gulai Kari Kambing pakai rebung. Wow, Bener-bener nikmat dan Selera untuk makan. Pukul 24.00 akhirnya tiba di kota padang, nginap di siteba (rumah adik nyokap). Disuguhi makan malam lagi, terpaksa dech harus makan. Udah dua hari di Sumbar, acara makan-makannya udah banyak gini. Gimana 3 hari lagi? :D

Hari ke 3 di Sumbar, Jum'at Pagi langsung mengelilingi kota Padang. Di tengah kota, Sisa-sisa bekas gempa bumi yang mengguncang kota padang masih terlihat. Banyak bangunan kosong yang tidak dipakai, karena memang sudah tidak layak lagi dipakai. Sebagian gedung, ada yang diperbaiki, sebagian terbengkalai begitu saja karena harus dirobohkan terlebih dahulu dan sebagian lagi tinggal puing-puing gedung yang belum dibersihkan. Teguran Allah SWT pada kota padang memberikan pelajaran pada masyarakatnya, Dinas terkait sedang membangun (melebar) jalan untuk jalur evakuasi jika terjadi tsunami. Peta-peta evakuasipun, sudah dipasang disetiap sudut kota. Di Pinggiran Kota, melewati jembatan Siti Nurbaya, berhenti sejenak di pinggir pantai. Makan talua katuang (Telur Penyu) dan talua asin sambil menikmati gulungan ombak dan indahnya pantai yang bersih. Tidak banyak jadwal di hari ke-3 ini, hanya sebentar dan silaturahmi ke tempat sanak sodara. Lebih banyak Istirahat karena lelah dan lamanya perjalanan dari dharmasraya masih terasa.

Mobil rental Avanza yang dipesan sudah datang, hari ke-4 di sumbar langsung tancap ke kampuang ibu di Pariaman tepatnya desa padusunan. Jalan By Pass di padang yang lumayan lebar dan sepi, membuat naluri balap supir medan jadi keluar. He..he.. Kurang lebih setengah jam menempuh perjalanan. Silaturahmi tetap menjadi agenda utama, sayang sekali Target Operasi Silaturahmi (TOS) hanya 50 % bisa direalisasikan di pariaman, karena 50% lagi TOS tidak ada di tempat, malahan posisi berada di Padang. Duuh.. padahal teknologi sudah maju, kenapa gak di telp dulu dari padang tadi. Geblek..geblek... Perjalanan dilanjutkan kembali dengan tujuan langsung ke Painan. Hiks..hiks.. Sayang sekali hanya sebentar di Pariaman, padahal pengen mampir di Pantai Kata dan pantai Arta. Ada istilah yang terkenal di pantai tersebut yaitu Nasi SEK. SEK merupakan singkatan Seratus Kenyang. Jadi waktu saya masih kecil dulu, hanya dengan Rp. 100 beli nasi di pantai tersebut, perut ini sudah kenyang dibuatnya. Klo sekarang, harganya gak mungkin seratus lagi dech kayaknya, mungkin SEribu Kenyang atau SEpuluh ribu Kenyang.

Perjalanan Ke Painan, seperti perjalanan ke Berastagi di Sumatera Utara, penuh liku-liku dan berbelok-belok. Yang buat berbeda hanya pada Pemandangan. Sepertiga pertama dalam perjalanan kita melewati Teluk Bayur (Pelabuhan Sumbar) dan melihat Pantai dengan pasir putih yang bersih, Laut Biru, serta ada beberapa kapal laut yang menurunkan jangkar. Sepertiga kedua hanya pemandangan bukit-bukit dan gunung-gunung hijau yang asri serta rumah-rumah penduduk. Sepertiga yang terakhir, sepanjang perjalanan ditemani Sungai besar yang bersih. Di Painan juga agenda utama tetap silaturahmi, kali ini TOS 100% berhasil direalisasikan. Selanjutnya menyempatkan diri ke Jembatan Akar (Root Bridge). Jembatan akar ini menghubungkan dua desa, dibawah jembatan akar tersebut ada sungai besar yang bersih. Kalau hari libur, pasti ramai dipenuhi orang-orang yang mandi. Teringat masa kecil dulu, bersama sepupu mandi-mandi di sungai tersebut. Sayang sekali tidak membawa baju ganti, klo gak kan bisa mandi-mandi juga.

Sebelum Pulang dari Painan, makan siang dengan menu Soto Rang Bayang. Seperti rasa-rasa sebelumnya : "Maknyus". Di tengah perjalanan banyak yang jual durian di pinggir jalan. Hasrat untuk beli tak tertahankan lagi, Hmm... Udah murah, rasanya pun Maknyus mantap.. Senang sekali rasanya, pulang ke medan terakhir gak sempat beli durian. Eh.. ternyata malah di sumbar sempat. Belinya pun gak sedikit, udah makan di tempat, ada yang di bawa pulang lagi :D . Sampai di Padang, langsung Makan malam di pinggir pantai RM Fuja yang menyediakan khas Seafood. Benar-benar maknyus menikmati Kakap dan UDang Bakar serta Cumi Goreng + sambal dengan rasa pedas asli.















Hari terakhir di sumbar, masih disempatkan juga wisata kuliner. Diajak sepupu Sarapan Lontong Pakis di daerah tarandam dan Makan siang klo gak salah namanya RM Lubuk Lingga di daerah lubuk minturun. Kayaknya berat badan naik 2 kg selama di sumbar. Jam 15.45 WIB sudah di BIM, padahal pesawat jam 17.50 WIB. Gara-gara khawatir terlambat takut Macet seperti Jakarta, jadi Kecepatan dech. Oh ya, hampir saja gua berlaku dzholim selama di pesawat. Gara-gara aroma kerupuk jariang (Kerupuk Jengkol) yang dibelikan sepupu tadi waktu makan siang. Hampir juga ketahuan, pramugarinya sempat mencari-cari di bagasi atas, padahal kalau di buka kantong plastik, pasti ketahuan. Pramugarinya hanya liat sekilas dari luar tanpa membuka kantong plastik (warna putih) berisi keripik sanjay. Untung juga aromanya gak muncul lagi setelah bagasi di atas ditutup pramugarinya. Padahal bawa cuma sedikiiiit aja, cukup untuk sekali makan dan udah dilapisi 3 kantong plastik lagi, tapi tetap aja aromanya lumayan. Fiuh... selamat dah gua.

Tidak semua nostalgia waktu kecil terulang. Tidak sempat mampir ke danau maninjau, berenang dan mencari pensi di dasar danau. Tidak semua juga dapat melihat keindahan Sumbar di berbagai tempat seperti Danau diatas dan danau dibawah, ngarai sianok, danau singkarak, pantai cerocok dan sebagainya. Sumbar aja sudah sebanyak itu, dan tidak bisa melihat semuanya. Bagaimana kalau seluruh Indonesia? Bagaimana lagi melihat keindahan Seluruh Negara di Dunia?

Ya Allah berilah Kekuatan dan kesempatan lain dalam melakukan perjalanan untuk melihat KeagunganMu dan menambah Keimanan ini. Amin.